Google+ Badge

Rabu, 07 Agustus 2013

Sri, gunakanlah perkataan yang baik setiap waktu ( Use a kind word every time )

Setiap orangtua pasti ingin selalu mengajarkan yang baik kepada anak-anaknya termasuk dalam hal perkataan. Termasuk orangtua aku yang selalu ingin anak-anaknya melakukan perbuatan yang baik dan mempunyai sikap dan perkataan yang baik juga. 

Okay, di sini aku ingin share tentang bagaimana aku harus bisa menjaga perkataanku selama aku hidup. Meski aku juga sadar hal ini tidak mudah juga, karena memang tidak ada manusia yang bisa mengontrol lidahnya.

Ini ceritaku ...

Semasa aku masih kecil memang sudah terbentuk dari keluarga yang baik-baik dan kedua orangtuaku selalu mengajarkan hal-hal yang baik. Sehingga aku memang jarang berkata-kata kotor atau tidak sopan, bukan berarti aku tidak pernah loh.... :)

Tapi yang menurutku itu masih tidak terlalu kotor seh....hehehe.
Aku tetap teringat jika ibuku pernah bilang : " kowe nek urip dadio wong sing apik lan ojo gawe urip sengsoro" artinya kamu kalau hidup jadilah orang yang baik dan jangan buat hidup ini sengsara. Termasuk dalam berkata-kata. ini sangat penting untuk di lakukan.

Nah, dari didikan orangtua ku itulah yang mendasari aku sampai saat ini masih bisa menjaga hidupku. Di tambah lagi aku juga membaca Firman Tuhan yang berkata bahwa janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutku, terus juga hendaklah perkataanku penuh kasih dan jangan hambar dan lainnya.

Tetapi terkadang aku bingung, kenapa orang bisa sampai ngomong kata-kata kotor dan tidak enak di dengar telinga.....ckckckc. sedangkan lidah kita ini kan berkuasa.

Suatu saat aku di ajar tentang bagaimana mengontrol lidah kita ini dengan benar. Dan pelajaran ini bukan dari manusia yang bercerita, tetapi lewat pengalaman atau kejadian yang kulakukan sendiri.

Begini ceritanya......

Ketika itu aku pulang dari acara di Puncak - Bogor dengan membawa bunga. Bunga ini sangat indah dan cantik warnanya, setelah sampai di rumah, aku tanam di pot bunga yang agak besar di depan rumah. Setelah beberapa minggu, bunga ini berkembang dan indah sekali... hatiku sangat senang. Suatu hari setelah saya pulang dari kerja, aku kaget dan kesal ketika melihat bunga yang ku tanam sudah tidak ada (di cabut dan di buang di tong sampah oleh kakakku) dan di ganti dengan tanaman cabai.....
Akhirnya aku duduk di depan pohon cabai itu dan berucap dengan hati kesal, dan aku mulai berkata-kata yang bisa di bilang aku mengutuki pohon cabai itu. Aku hanya berucap seperti ini : "kamu tidak akan bertumbuh subur, kamu akan mati dan aku tidak suka kamu " ini saja yang aku ucapkan dengan hati yang kesal. dan aku juga tidak berpikir apa-apa waktu itu.

hari berganti hari, minggu berganti minggu dan sampai satu bulan, ketika aku mengamati pohon cabai kecil itu, tidak bertumbuh - tumbuh dengan cepat. Pertumbuhannya sangat lambat dan ujungnya bukan berdiri tumbuhnya tetapi merunduk. Akhirnya aku berpikir, kenapa cabai ini tidak bertumbuh-tumbuh pikirku. (aku sudah lupa dengan ucapanku tetapi aku masih berpikir ada apa dengan pohon cabai). Ketika aku teringat dengan ucapanku, aku sadar dan aku minta ampun sama Tuhan supaya mencabut perkataan kotorku terhadap pohon cabai itu, aku mulai memberkati dan mengucapkan yang positif, tetapi aku sudah terlambat mungkin ya, hingga akhirnya aku melihat bahwa pohon cabai itu akhirnya mati.

Dari pengalaman langsung ini , aku di ajar oleh Tuhan bahwa lidah kita ini berkuasa dan pengaruhnya sangat besar. Sejak saat itu akhirnya aku bertobat dan benar-benar ini menerapkan perkataan- perkataan yang positif dan tidak mau mengucapkan kata-kata yang kotor.

Dan aku bersyukur kalau hingga sekarang aku masih bisa menjaga itu yaitu tidak berkata-kata kotor atau yang sifatnya tidak jadi berkat bagi orang lain. karena aku sadar bahwa lidahku ini berkuasa.

Yang ingin aku sampaikan di sini adalah bahwa biarlah selama kita hidup, mari kita menjaga perkataan kita. Tidak sembrono dalam perkataan, sekalipun mempunyai kesan bergurau waktu kita bicara dengan teman kita. Tetapi kita juga harus berhati-hati dengan kata-kata kita.

Karena ucapan kita itu seperti panah, sekali dilepas maka dia akan mengarah kepada siapa yang di tuju. jika panah itu adalah kata-kata kotor, maka itu akan hinggap kepada siapa kita berikan dan jika itu dibiarkan maka dia akan menancap dan bekerja di dalam diri orang tersebut.

karena itu, aku selalu berusaha untuk bisa berkata-kata yang baik dan membangun kepada setiap orang, termasuk mungkin yang pernah menyakiti aku. 
dan puji Tuhan, aku mampu melewatinya dan aku akan tetap jaga.

God bless you